
Ngaji Bareng Mbah Ubaid
SULUK SENEN PAHINGAN #37
KonserTalk: Aqoid Seket Sangune Pati
GELOMBANG deras disinformasi digital, krisis moral, dan tipisnya keimanan dalam kehidupan sehari-hari, muncul satu pertanyaan: masihkah kita punya fondasi yang kokoh sebagai bekal hidup dan mati?
KonserTalk: Aqoid Seket Sangune Pati hadir bukan sekadar hiburan, tapi menjadi panggung renungan dan perlawanan. Perlawanan terhadap lunturnya nilai, terhadap budaya tipu daya, dan terhadap zaman yang membuat manusia melupakan siapa dirinya di hadapan Tuhan.
Tema utama acara ini diangkat dari syiir klasik berbahasa Jawa berjudul Aqoid Seket, yang berisi 50 pokok keimanan dalam Islam. Frasa “Sangune Pati” (Bekal Kematian) menjadi refleksi bahwa keimanan bukan sekadar doktrin hafalan, tapi fondasi hidup yang menentukan arah dan akhir perjalanan manusia.
Melalui konser dan dialog, kembali menyelami makna-makna tauhid dalam syiir tersebut. Tidak hanya tentang keyakinan, tetapi juga perlawanan; bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sosial saat ini.
Ada beberapa point dalam gelaran acara ini; Pertama, Keimanan yang Menipis di Era Disrupsi. Krisis terbesar umat saat ini bukan hanya ekonomi atau politik, tapi krisis iman. Banyak orang kehilangan makna hidup karena tercerabut dari akar aqidah. Aqoid Seket, dengan 50 prinsip dasarnya, adalah “peta jalan ketuhanan” agar manusia tetap sadar tujuan penciptaannya.
Kedua, Ekonomi Tak Stabil, Tapi Akidah Harus Stabil. Kondisi ekonomi yang kian tidak menentu; PHK massal, pengangguran, kemiskinan struktural, dan kesenjangan, banyak orang terjebak dalam mentalitas survival tanpa etika. Korupsi, penipuan, hingga kejahatan daring adalah gejala iman yang mulai rapuh.
Ketiga, Perilaku Koruptif dan Dekadensi Moral. Indonesia dianggap negara paling religius bahkan paling dermawan di dunia. Namun hari ini, banyak pemimpin publik kehilangan rasa takut pada Tuhan. Akibatnya, korupsi dianggap biasa, bahkan dipoles dengan citra seolah-olah mulia.
Dekadensi moral merambah bukan hanya kalangan elite, tapi juga masyarakat akar rumput; terlihat dari banyaknya kekerasan dalam rumah tangga, kenakalan remaja, hingga perundungan di sekolah.
Keempat, Literasi Digital: Ketauhidan vs Algoritma. Tak kalah penting, persoalan bahaya media sosial. Algoritma platform digital seringkali mendorong konten destruktif dan superficial, menjauhkan manusia dari nilai-nilai esensial. Hari ini, diperlihatkan lebih mudah hafal influencer, lebih kenal gaya hidup viral.
Melalui KonserTalk ini, menjadikan Aqoid Seket sebagai “Gerakan” bukan sekadar untuk dihafal dan dinyanyikan, tapi dihayati dan diamalkan: Di pasar, aqoid seket menjadi benteng moral pedagang. Di medsos, aqoid seket menjadi saringan konten. Di rumah, aqoid seket menjadi nilai hidup bersama.
Di kantor pemerintahan, aqoid seket menjadi penuntun integritas dan pelayanan publik. Di jalanan, aqoid seket menjadi pengingat untuk saling menghormati dan menjaga keselamatan. Di komunitas, aqoid seket menjadi pengikat solidaritas dan kepedulian sosial.
KonserTalk: “Aqoid Seket Sangune Pati” bukan sekadar warisan naskah lama. Ia adalah kompas hidup dalam dunia yang limbung arah. Di tengah kebisingan zaman, ia menawarkan ketenangan, arah, dan kekuatan. []
