Memahami sifat-sifat Allah melalui Aqoid 50 merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual menuju istiqamah dalam keimanan.
Oleh: KH. Ahmad Haris Shodaqoh
Assalamualaikum Wr. Wb
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ ٱلْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ رَسُولِ اللهِ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، خَيْرِ خَلْقِ اللهِ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ
PARA ashabal fadilah, para jamaah pengajian Senin Pahing, pengajian selapanan yang membahas tentang Aqoid 50, saya ingin menyampaikan beberapa hal. Tadi saya baru saja ditanya oleh keponakan saya, Hudallah, tentang asal mula lagu Aqoid 50.
Dulu, saat saya masih kecil, lagu itu sudah sering dikumandangkan oleh para sesepuh. Pengajian selapan seperti ini pun sudah ada sejak saya kecil. Dahulu, pengajian lapangan diisi oleh Mbah Amin Gubuk dan Mbah Bisri Mustofa dari Rembang.
Saya ikut karena ini adalah warisan dari orang tua, dari para alim ulama. Mengenai susunan Aqoid 50 dalam bahasa Jawa, saya tidak mempermasalahkannya. Hanya saja, ketika saya meneliti, saya tidak menemukan bagian yang menjelaskan sifat-sifat muhal (mustahil) bagi Allah.
Maka, saya menambahkan bait syiir: “Kabeh iku sifat wajibe, nek dibalik dadi mukhale.” Itu bukan karangan, tapi saya tambahkan setelah merenung bahwa yang wajib pasti punya lawan muhal.
Sifat-sifat Allah yang wajib itu merangkum esensi wujud-Nya. Allah pasti wujud, karena kalau tidak, siapa yang menciptakan alam ini? Allah pasti qadir (berkuasa), karena tanpa kuasa-Nya, alam semesta ini takkan tercipta.
Allah pasti alim (maha mengetahui), karena setiap makhluk bahkan yang tersembunyi di celah batu atau di pelosok hutan rezekinya tetap terjamin. Semua itu adalah kesimpulan dari pemahaman sifat-sifat Allah.
Jika Allah tidak memiliki sifat-sifat tersebut, pasti akan ada ketimpangan. Misalnya, kalau Allah tidak memiliki sifat basir (melihat) atau sami’ (mendengar), tentu banyak hal yang luput dari pantauan-Nya. Alam ini akan kacau. Maka, sifat-sifat Allah ini penting untuk kita pahami secara rasional.
Tadi moderator menyebutkan bahwa kita wajib memahami dalil-dalil aqoid secara ijmali dan tafsili. Dalil naqli diambil dari Al-Qur’an dan hadis, sementara dalil aqli dapat dipikirkan oleh siapa pun.
Para filsuf seperti Plato pun sebenarnya sampai pada keyakinan akan adanya Tuhan berdasarkan akal semata. Maka kita pun bisa, asal tidak malas. Karena kemalasan, kita terlalu disibukkan oleh urusan dunia.
Pertanyaan mengapa banyak kegaduhan dalam kehidupan ini sama seperti pertanyaan mengapa Allah menciptakan setan, menciptakan nafsu, menciptakan keserakahan. Semua itu diciptakan untuk menguji manusia:
أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
Siapa di antara kalian yang terbaik amalnya. Maka, kezaliman dan kemungkaran adalah bagian dari ujian. Tidak bisa hilang sepenuhnya. Karena itulah kita terus diberi tugas untuk amar makruf nahi mungkar, yang juga tak akan pernah selesai.
Saya teringat ucapan ulama, “Saya lebih takut godaan wanita daripada godaan setan.” Karena Al-Qur’an sendiri membandingkan: rekayasa setan itu lemah, namun tentang wanita dalam kisah Yusuf disebut:
اِنَّهٗ مِنْ كَيْدِكُنَّۗ اِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu (hai kaum wanita). Tipu dayamu benar-benar hebat.”
Ini saja sudah menjadi persoalan besar dalam menciptakan ketenangan batin. Nabi Daud dan Nabi Sulaiman pun punya kisah yang menunjukkan bagaimana dinamika batin dan nafsu dapat mempengaruhi hidup. Bahkan dalam kisah burung Hud-Hud dan Ratu Bilqis, terlihat bagaimana wanita bisa menjadi sebab besar perubahan.
Para ulama tasawuf berupaya menguak rahasia hidup ini, rahasia pribadi untuk bisa mengenali Zat Allah. Maka, memahami Aqoid 50 adalah bagian dari suluk, dari perjalanan batin menuju Allah. Karena suluk berbeda dengan safar. Safar adalah perjalanan lahir, suluk adalah perjalanan ruhani.
Tadi pagi saya mengaji Kitab Al-Hikam, dan disebut bahwa orang-orang yang suluk menuju Allah itu memakai cahaya tawajjuh, yakni amal-amal dan riyadhah. Amal itu seperti lampu penerang. Ketika sudah sampai pada Allah, tak perlu lagi amal itu, karena dia telah bertemu langsung dengan Tuhannya. Namun, jika ada orang mengaku tidak perlu ibadah karena sudah sampai kepada Allah, itu dusta.
Suluk, sebagaimana pengajian Senin Pahing ini, adalah proses bertahap. Memahami Aqoid 50 adalah awal. Selanjutnya akan meningkat. Menurut Syekh Ibnu Athaillah, “Usahamu untuk mengetahui aib-aib dirimu lebih utama daripada usahamu menyingkap hal-hal yang gaib.”
تَشَوُّفُكَ إِلَى مَا بَطَنَ فِيكَ مِنَ العُيُوبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إِلَى مَا حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الغُيُوبِ
Artinya, introspeksi jauh lebih bernilai daripada mengejar karamah atau keistimewaan ruhani.
ٱلِٱسْتِقَامَةُ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ
“Istiqamah itu lebih utama daripada seribu karamah.”
Maka, Istiqamah lebih utama daripada seribu karamah. Jangan mencari karamah. Carilah istiqamah. Karena karamah itu keinginan diri sendiri. Sedang istiqamah adalah perintah Allah.
Ada tiga jenis aib: aib nafsu (nafs), aib hati (qalb), dan aib ruhani (ruh). Aib nafsu berhubungan dengan syahwat dunia: makanan, pakaian, wanita. Aib hati berkaitan dengan cinta kekuasaan, iri, dengki, sombong. Aib ruh berhubungan dengan ambisi terhadap keramat dan keistimewaan surgawi.
Orang yang sungguh-sungguh menuju Allah tidak lagi berpikir soal bidadari atau surga, karena tujuan tertingginya adalah Allah semata.
Inilah yang berat: untuk memahami Aqoid 50 sampai pada ‘ainul yakin dalam tauhid. Tapi insyaallah bisa, asal kita mau berpikir. Memahami bahwa Allah itu harus wujud, qidam, baqa, dan sifat-sifat lainnya. Semua itu logis, bisa kita rasakan dalam hidup.
Bapak Ibu sekalian, ketika sampai di rumah, cobalah renungkan. Kalau Allah tidak wujud, bagaimana mungkin alam ini ada? Kalau Allah tidak qidam, maka Dia sama seperti makhluk. Kalau tidak baqa, maka Dia akan musnah seperti makhluk.
Semoga pengajian ini membawa kita semakin dekat kepada pemahaman tauhid yang benar. Dan setelah Aqoid 50 ini selesai, semoga kita bisa tingkatkan lagi pembahasan-pembahasan berikutnya, baik dari dalil naqli maupun aqli.
Dalil aqli bisa ditemukan di mana saja; di bawah pohon, di laut, di gunung karena Allah perintahkan kita berpikir.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَٱخْتِلَافِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190).
Cukup sekian. Mohon maaf apabila ada kekurangan.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
